Halaman

Senin, 13 Juni 2011

roda aktualita hampa kawula muda jakarta


lagi lagi aku hanya bisa mengguman kegelian di gelitik temaramnya suasana budaya urban.
menutur teman sebayaku, jika tak mampu, maka tersenyum respeklah tanpa sedikitpun menunjukkan gelagat iri dengki similikiti. namun apa daya, hanya melalui tulisan ini mungkin hendaknya rekan kawula muda ataupun sok muda mengerti bagaimana lucunya tingkah budaya urban ibu kota ini.
suatu waktu aku melintasi sebuah jalan raya selepas pulang beraktivitas. hangatnya kompor ibu serasa dekat isi kepalaku, mengingat penatnya hiruk pikuk perjalanan hariku di lembaga pendidikan tingkat tinggi. kucoba memacu kuda besi odong- odong biru mudaku melesat semampunya, sesegera mungkin aku merebahkan ragaku di tumpukan kapuk sintetis kamar kecilku. namun malam itu aku melihat sebuah kemacetan yang aneh, mengingat kemacetan juga termasuk agenda moda kehidupan masyarakat jakarta. aku, yang terbiasa pulang hampir larut malam setiap hari, hanya sekedar ingin melintasi jalanan ibu kota tanpa terhambat, terkejut melihat antrian kendaraan di daerah bilangan sekitar taman puring. aku melihat cahaya lampu pijar memecah arogansi malam. dominasi warna hijau , merah dan oranye yang memadu komposisi ditengah papan reklame tinggi yang menjulang, seolah memanggil para kaumnya untuk berkonsolidasi bersama di satu tempat yang diklaim sebagai tempat teraktual untuk memadu keagungan pergaulan tingkat tinggi.
aku terheran.. memang aku tak pulang kerumah sudah 3 hari lamanya, namun bukankah itu waktu yang singkat untuk menyebarkan virus area berorgasme urban baru?
sebelumnya aku hanya melihat kaca besar yang sedang dipasangi, dan kemudian aku menemukan tempat tersebut sudah penuh sesak dengan kaum entah apa sebutannya..
aku heran
memang sebegitu spesialkah tempat itu untuk seumuran aku?
apa saja yang menjadi daya tarik mereka?
ku coba berfikir dengan pola seumuranku dan sepenangkap daya nalarku
nyamankah tempatnya? nikmatkah sajiannya? enjoykah suasananya?
lalu apa? apakah memang daya intelektualitas sayakah yang meleset dalam berfikir modern?

hmm..

aku fikir tidak, dan meskipun jalan fikiranku sangatlah kontradiksi, namun aku tak menemukan keganjilan

rupanya memang ini siklus kebudayaan kawula muda, dan sadar atau tidak, akupun pernah menjadi bagiannya..

kebudayaan ini sudah terjadi ketika mini market lingkaran "k" merah menjadi pelopornya, dan menjadi salah satu pemasok minuman fermentasi gandum yang mudah dijangkau seumuran kami, kemudian kami tabu untuk meminum sembarangan (kala itu) dan akhirnya kami menghabiskannya di tempat kami membeli.

tapi alasanku jelas kala itu

mungkinkah alasan mereka jelas saat ini?

ya, mungkin saja ada predikat kebenaran yang tercantum diantaranya
atau tak sempat tertangkap olehku, atau saja termakan zaman

meskipun begitu, tetap saja aku mendoakan semuanya baik- baik saja
jangan sampai anak bangsa lumpuh akibat terlalu banyak menggenjot sepeda FIKSI dini hari dan kanker akibat terlalu banyak minum SLURPI

adios amigos :D

amy "simonyetbali" zahrawaan
senin, 13 juni 2011. 11:40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini