
Anda kenal Monyet? kenal pula provinsi Bali? ya, saya memang tidak terlalu mirip seperti primata, dan bahkan saya belum pernah ke Bali, saya hanya pemuda penuh ekspektasi seni dan kehidupan. Blog ini berisi kumpulan dokumentasi ekspresi dan ejakulasi monyetbali, selamat menikmati :)
Senin, 25 Juli 2011
Senin, 04 Juli 2011
journey to bandung
Tanggal 30/06/2011, pukul 16:00 tepat saya bertolak ke kota kembang bersama teman saya, Angga cipta, bermaksud mengunjungi pembukaan pameran teman- teman kami di sana.

pameran ciamik hilmi fabeta dan andro yang disokong oleh manajemen stella dan ferlin. menampilkan kolaborasi seni rupa dan seni musik. edisi pertama pameran hybrid

singkat cerita, saya dan angga menemukan hal baru dan juga orang- orang yang tak terduga, yang masih dalam satu lingkup profesi kami berdua, yakni perupa. kami mengunjungi pameran dan saya meminta beberapa teman untuk menggambar di buku sketsa milikku, karena saya lebih menghargai oleh- oleh karya, meskipun hanya sekedar coretan belaka, namun sangat berarti bagi saya. ini menandakan ikatan pertemanan kami tak sekedar teman biasa. daripada oleh- oleh barang lain yang entah berantah fungsinya.
pameran amenk alumni UPI di galeri padi, "keren pisan euy", menjadi inspirasi saya untuk berkarya bebas dan tetap humoris.

pameran sebagai tribut meninggalnya seorang teman. sangat tergugah ! semoga setelah tiadapun, kelak saya masih diingat teman :)

coretan icha "sang kurator" dan stella

coretan saya, menginterpretasikan keadaan ketika berada di sebuah bar beratmosfer meksiko banget dan perjalanan saya sebelum sampai di lokasi.
coretan hilmi fabeta
coretan angga cipta (kiri), dan mas wahyu, salah satu mahasiswa senirupa ITB yang baru saja saya kenal (kanan)
coretan saya (kiri) dan kolaborasi icha dan stella (kanan)
coretan saya tentang perasaan selama di bandung
coretan saya (kiri) dan angga cipta (kanan) sebelum berangkat, kami merespon pertokoan disekitar sarinah


pameran ciamik hilmi fabeta dan andro yang disokong oleh manajemen stella dan ferlin. menampilkan kolaborasi seni rupa dan seni musik. edisi pertama pameran hybrid

singkat cerita, saya dan angga menemukan hal baru dan juga orang- orang yang tak terduga, yang masih dalam satu lingkup profesi kami berdua, yakni perupa. kami mengunjungi pameran dan saya meminta beberapa teman untuk menggambar di buku sketsa milikku, karena saya lebih menghargai oleh- oleh karya, meskipun hanya sekedar coretan belaka, namun sangat berarti bagi saya. ini menandakan ikatan pertemanan kami tak sekedar teman biasa. daripada oleh- oleh barang lain yang entah berantah fungsinya.
pameran amenk alumni UPI di galeri padi, "keren pisan euy", menjadi inspirasi saya untuk berkarya bebas dan tetap humoris.
pameran sebagai tribut meninggalnya seorang teman. sangat tergugah ! semoga setelah tiadapun, kelak saya masih diingat teman :)

coretan icha "sang kurator" dan stella

coretan saya, menginterpretasikan keadaan ketika berada di sebuah bar beratmosfer meksiko banget dan perjalanan saya sebelum sampai di lokasi.
coretan hilmi fabeta
coretan angga cipta (kiri), dan mas wahyu, salah satu mahasiswa senirupa ITB yang baru saja saya kenal (kanan)
coretan saya (kiri) dan kolaborasi icha dan stella (kanan)
coretan saya tentang perasaan selama di bandung
coretan saya (kiri) dan angga cipta (kanan) sebelum berangkat, kami merespon pertokoan disekitar sarinah
coretan saya (kiri) dan angga cipta (kanan), merespon keterlambatan kami naik travel
Jumat, 17 Juni 2011
tugas patung lilin plastisin ngasal aje :D
Senin, 13 Juni 2011
roda aktualita hampa kawula muda jakarta

lagi lagi aku hanya bisa mengguman kegelian di gelitik temaramnya suasana budaya urban.
menutur teman sebayaku, jika tak mampu, maka tersenyum respeklah tanpa sedikitpun menunjukkan gelagat iri dengki similikiti. namun apa daya, hanya melalui tulisan ini mungkin hendaknya rekan kawula muda ataupun sok muda mengerti bagaimana lucunya tingkah budaya urban ibu kota ini.
suatu waktu aku melintasi sebuah jalan raya selepas pulang beraktivitas. hangatnya kompor ibu serasa dekat isi kepalaku, mengingat penatnya hiruk pikuk perjalanan hariku di lembaga pendidikan tingkat tinggi. kucoba memacu kuda besi odong- odong biru mudaku melesat semampunya, sesegera mungkin aku merebahkan ragaku di tumpukan kapuk sintetis kamar kecilku. namun malam itu aku melihat sebuah kemacetan yang aneh, mengingat kemacetan juga termasuk agenda moda kehidupan masyarakat jakarta. aku, yang terbiasa pulang hampir larut malam setiap hari, hanya sekedar ingin melintasi jalanan ibu kota tanpa terhambat, terkejut melihat antrian kendaraan di daerah bilangan sekitar taman puring. aku melihat cahaya lampu pijar memecah arogansi malam. dominasi warna hijau , merah dan oranye yang memadu komposisi ditengah papan reklame tinggi yang menjulang, seolah memanggil para kaumnya untuk berkonsolidasi bersama di satu tempat yang diklaim sebagai tempat teraktual untuk memadu keagungan pergaulan tingkat tinggi.
aku terheran.. memang aku tak pulang kerumah sudah 3 hari lamanya, namun bukankah itu waktu yang singkat untuk menyebarkan virus area berorgasme urban baru?
sebelumnya aku hanya melihat kaca besar yang sedang dipasangi, dan kemudian aku menemukan tempat tersebut sudah penuh sesak dengan kaum entah apa sebutannya..
aku heran
memang sebegitu spesialkah tempat itu untuk seumuran aku?
apa saja yang menjadi daya tarik mereka?
ku coba berfikir dengan pola seumuranku dan sepenangkap daya nalarku
nyamankah tempatnya? nikmatkah sajiannya? enjoykah suasananya?
lalu apa? apakah memang daya intelektualitas sayakah yang meleset dalam berfikir modern?
hmm..
aku fikir tidak, dan meskipun jalan fikiranku sangatlah kontradiksi, namun aku tak menemukan keganjilan
rupanya memang ini siklus kebudayaan kawula muda, dan sadar atau tidak, akupun pernah menjadi bagiannya..
kebudayaan ini sudah terjadi ketika mini market lingkaran "k" merah menjadi pelopornya, dan menjadi salah satu pemasok minuman fermentasi gandum yang mudah dijangkau seumuran kami, kemudian kami tabu untuk meminum sembarangan (kala itu) dan akhirnya kami menghabiskannya di tempat kami membeli.
tapi alasanku jelas kala itu
mungkinkah alasan mereka jelas saat ini?
ya, mungkin saja ada predikat kebenaran yang tercantum diantaranya
atau tak sempat tertangkap olehku, atau saja termakan zaman
meskipun begitu, tetap saja aku mendoakan semuanya baik- baik saja
jangan sampai anak bangsa lumpuh akibat terlalu banyak menggenjot sepeda FIKSI dini hari dan kanker akibat terlalu banyak minum SLURPI
adios amigos :D
menutur teman sebayaku, jika tak mampu, maka tersenyum respeklah tanpa sedikitpun menunjukkan gelagat iri dengki similikiti. namun apa daya, hanya melalui tulisan ini mungkin hendaknya rekan kawula muda ataupun sok muda mengerti bagaimana lucunya tingkah budaya urban ibu kota ini.
suatu waktu aku melintasi sebuah jalan raya selepas pulang beraktivitas. hangatnya kompor ibu serasa dekat isi kepalaku, mengingat penatnya hiruk pikuk perjalanan hariku di lembaga pendidikan tingkat tinggi. kucoba memacu kuda besi odong- odong biru mudaku melesat semampunya, sesegera mungkin aku merebahkan ragaku di tumpukan kapuk sintetis kamar kecilku. namun malam itu aku melihat sebuah kemacetan yang aneh, mengingat kemacetan juga termasuk agenda moda kehidupan masyarakat jakarta. aku, yang terbiasa pulang hampir larut malam setiap hari, hanya sekedar ingin melintasi jalanan ibu kota tanpa terhambat, terkejut melihat antrian kendaraan di daerah bilangan sekitar taman puring. aku melihat cahaya lampu pijar memecah arogansi malam. dominasi warna hijau , merah dan oranye yang memadu komposisi ditengah papan reklame tinggi yang menjulang, seolah memanggil para kaumnya untuk berkonsolidasi bersama di satu tempat yang diklaim sebagai tempat teraktual untuk memadu keagungan pergaulan tingkat tinggi.
aku terheran.. memang aku tak pulang kerumah sudah 3 hari lamanya, namun bukankah itu waktu yang singkat untuk menyebarkan virus area berorgasme urban baru?
sebelumnya aku hanya melihat kaca besar yang sedang dipasangi, dan kemudian aku menemukan tempat tersebut sudah penuh sesak dengan kaum entah apa sebutannya..
aku heran
memang sebegitu spesialkah tempat itu untuk seumuran aku?
apa saja yang menjadi daya tarik mereka?
ku coba berfikir dengan pola seumuranku dan sepenangkap daya nalarku
nyamankah tempatnya? nikmatkah sajiannya? enjoykah suasananya?
lalu apa? apakah memang daya intelektualitas sayakah yang meleset dalam berfikir modern?
hmm..
aku fikir tidak, dan meskipun jalan fikiranku sangatlah kontradiksi, namun aku tak menemukan keganjilan
rupanya memang ini siklus kebudayaan kawula muda, dan sadar atau tidak, akupun pernah menjadi bagiannya..
kebudayaan ini sudah terjadi ketika mini market lingkaran "k" merah menjadi pelopornya, dan menjadi salah satu pemasok minuman fermentasi gandum yang mudah dijangkau seumuran kami, kemudian kami tabu untuk meminum sembarangan (kala itu) dan akhirnya kami menghabiskannya di tempat kami membeli.
tapi alasanku jelas kala itu
mungkinkah alasan mereka jelas saat ini?
ya, mungkin saja ada predikat kebenaran yang tercantum diantaranya
atau tak sempat tertangkap olehku, atau saja termakan zaman
meskipun begitu, tetap saja aku mendoakan semuanya baik- baik saja
jangan sampai anak bangsa lumpuh akibat terlalu banyak menggenjot sepeda FIKSI dini hari dan kanker akibat terlalu banyak minum SLURPI
adios amigos :D
amy "simonyetbali" zahrawaan
senin, 13 juni 2011. 11:40
senin, 13 juni 2011. 11:40
Jumat, 10 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
2 pemimpi

perkenalkan, nama saya robet, dan dia adalah suparman
kami berdua adalah mahasiswa semester sekian, hampir mendekati gelar sarjana. AMIN
kami tinggal disebuah gubuk jelata, dibelakang tempat kami menuntut ilmu kurikuler
senantiasa dikelilingi kerajaan nyamuk dan geng tikus curut.
diwaktu siang kami serasa di tumis,
keringat bercucuran akibat tersengat radiasi mentari yang mampu menembus hingga lubuk raga.
diwaktu malam kami serasa diperkosa,
ketika sudah letih menjalani haripun, saya masih harus depaksa berjibaku melawan segerombolan geng kerdil penghisap hemoglobin.
tiap hari berjibaku dengan berbagai masalah dan problema
pihak akademis menuntut kami untuk tunduk dengan sistem dan prosedur kacangan demi tercapainya sebuah nilai formatif, meski harga diri serasa diinjak 2 kelurahan.
pihak non akademis mengharuskan kami untuk terus berpacu dan berlatih dalam mengarungi jalangnya kehidupan dunia luar,
belum lagi keluarga yang kami tinggalkan, karena tak tega melihat keadaan rumah.
umur kami semakin uzur, ayah ibu telah mengeriput, saudara butuh bantuan
kami sebenarnya gemalau sangat parah.
kami ingin lulus kuliah memuaskan, tapi kami tak mau lulus tak berpapa
berpangku pada nilai formatif, tanpa punya keahlian dan sosialitas
persetan dengan gelar, birokrasi dan skill
yang ada hanya ada nepotisme di negeri ini, sekalipun instansi pemerintahan
tak menghakimi tak pula mendukung, namun dari lubuk hati terdalam berucap,
kepercayaan adalah segalanya
meskipun orang beranggapan kurang mumpuni, apadaya jikalau hati telah percaya
seakan kualitas paling teratas
kami sadar akan semua keleluconan semua ini, namun apa daya
halaman sendiri lebih baik meski halaman tetangga lebih bagus.
kami mencoba berlayar ditengah samudera kehidupan, namun kami menempuhnya dengan cara kami sendiri.
kami siap berenang gaya kupu- kupu atau gaya batu sekalipun.
kami bukan penganut suatu aliran atau komunitas
kami hanya orang yang mencoba apatis ditengah kebisingan kata modernitas dan hedon
itulah mengapa kami tela hidup bersusah payah.
bukan karena kami miskin akan harta
kami masih mampu bayar spp meski agak telat dan sepertiga mati
kami masih mampu makan, meski hanya dengan seadanya
kami hanya dua pemuda yang haus akan impian tak berujung
ini itu dipadukan dengan idealisme semu nan bergairah.
kami memang miskin, tapi setidaknya tak mau menyusahkan orang tua
karena setelah keluar mani, lelaki wajib mencari makan sendiri.
kami memang miskin, tapi kami tak mau miskin intelektual
kami murahan, kami mau belajar dengan siapapun, bahkan dengan gembel sekalipun.
ilmu bukan hanya diperoleh melalui kumpulan kertas yang dijilid
ilmu bukan hanya diperoleh dari institusi berbiaya tinggi dan celotehan basi para pengajarnya
ilmu bukan hanya diperoleh dari info antah berantah dunia maya
bukan pula dari media yang katanya terpercaya
kami percaya,
bahwa kebangkitan selalu datang dari keterpurukkan
kebebasan hadir setelah keterkekangan
meskipun sekalipun sengaja menghadirkannya didepan kami.
karena kami ingin latihan jatuh yang baik sebelum jatuh terpelanting dan tulang rusuk patah
ketika semua ujung impian kami sebenarnya hanyalah liang lahat
tapi tak masalah
meskipun kami berasal dari kalangan yang berbeda
kami masih bisa merasakan nikmatnya hidup
kami tertawa ditengah kesibukkan orang berlomba paling aktual
yang sebenarnya juga pasti mereka malah mencemooh balik karena tingkah introvert terhadap budaya urban yang sedang asyik bergulir
kami memang bukan masyarakat urban, bahkan kami bukan manusia.
kami berdua hanyalah
pemimpi
dan siap
untuk
mewujudkannya :)
amy "simonyetbali" zahrawaan
jumat, 10 juni 2011. 00:42
jumat, 10 juni 2011. 00:42
Senin, 06 Juni 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


